Masyarakat Standarisasi Indonesia

ISO 26000 dan Sustainable Development Goals (SDG)

Agenda Pembangunan berkelanjutan pasca 2015 : Hubungan antara Panduan ISO 26000 untuk tanggung jawab sosial dan pembangunan berkelanjutan

Konsep pembangunan berkelanjutan dan tanggung jawab sosial sering digunakan secara bergantian. Pembangunan berkelanjutan mengacu pada tujuan ekonomi, sosial dan lingkungan bagi semua orang, sedangkan tanggung jawab sosial mengacu pada tanggung jawab organisasi untuk masyarakat dan lingkungan. Jadi ketika sebuah
organisasi memutuskan untuk melakukan dan melaksanakan tanggung jawab sosial, secara menyeluruh, tujuannya adalah untuk memberikan kontribusi terhadap pembangunan yang berkelanjutan (Rosenfeld dan Martínez. ISOfocus)

ISO 26000 memberikan pedoman bagaimana bisnis dan organisasi agar dapat beroperasi dalam cara yang bertanggung jawab secara sosial. ISO 26000 menjelaskan apa yang dimaksud dengan tanggung jawab sosial, membantu bisnis dan organisasi menerjemahkan prinsip tanggungjawab sosial ke dalam tindakan efektif dan berbagi praktik pengalaman terbaik antar organisasi di seluruh dunia yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial.
Standar ISO dirancang untuk membantu organisasi berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan dan mendorong organisasi untuk berkegiatan yang melampaui kepatuhan hukum dasar (to go beyond basic legal compliance), serta untuk mempromosikan pemahaman umum di bidang tanggung jawab sosial, melengkapi instrumen dan inisiatif lain yang sudah ada.

Sementara itu, Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 yang memiliki 17 sasaran Sustainable Development Goals (SDGs), untuk mengakhiri kemiskinan, melawan ketidaksetaraan dan ketidakadilan, serta mengatasi perubahan iklim pada tahun 2030. Ke 17 (tujuh belas) sasaran seperti pada gambar di bawah ini :

Sumber : http://www.undp.org/content/undp/en/home/sdgoverview/post-2015-development-agenda.html

Sumber : http://www.undp.org/content/undp/en/home/sdgoverview/post-2015-development-
agenda.html

Bagaimana ISO 26000 memberikan peluang atau sinergi yang nyata dalam pembangunan berkelanjutan?
Dalam pedoman ISO 2600, sebagian besar isu tanggungjawab sosial yang dicakup dalam ISO 26000 juga dicakup dalam pembangunan berkelanjutan, seperti dampak lingkungan dan hak asasi manusia.
Dapat dikatakan bahwa ISO 26000 memiliki lingkup yang lebih luas dibandingkan dengan standar tentang pembangunan berkelanjutan. ISO telah melakukan analisis untuk mengkaji peluang dan sinergi ke dua standar tersebut dengan cara membandingkan target SDGs dan ISO 26000

Salah satu contoh, dalam isu kesertaraan gender, ISO 26000 menyebutkan “Kesetaraan gender dan tanggung jawab sosial”, sementara itu, SDGs hanya mencakup tujuan yang berdiri sendiri pada kesetaraan dan pemberdayaan perempuan dan anak perempuan. Dalam ISO 26000, organisasi harus meninjau keputusan dan kegiatan mereka untuk yang paling komprehensif namun ringkas dan mudah
untuk organisasi yang ingin berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan. ISO 26000 memungkinkan kemitraan antara pemerintah, sektor swasta dan masyarakat sipil. Ini akan menjadi kunci untuk memastikan SDGs terpenuhi dan keberlanjutan planet kita dijamin.

Referensi:
1. ISO Focus No. 114
2. Sustainable Development Goals (SDGs). http://www.undp.org/content/undp/en/home/sdgoverview/post-2015-development-agenda.html

admin

View more posts from this author

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *